Jumat, 07 September 2018

Kisah Ular dan Gergaji

Seekor ular memasuki gudang tempat kerja seorang tukang kayu di malam hari.

Kebiasaan si tukang kayu adalah membiarkan sebagian peralatan kerjanya berserakan dan tidak merapikannya.

Nah ketika seekor ular itu masuk ke gudang tukang kayu, secara kebetulan ia merayap diatas gergaji, tajamnya gergaji menyebabkan perut ular terluka. Ular beranggapan gergaji itu menyerangnya,ular itu pun membalas dgn mematuk gergaji itu berkali - kali.

Serangan yg bertubi-tubi menyebabkan luka parah di bagian mulutnya, marah dan putus asa ular berusaha mengerahkan kemampuan terakhirnya untuk mengalahkan musuhnya. Ular pun lalu membelit kuat gergaji itu, belitan yang menyebabkan tubuhnya terluka parah akhirnya ular itu mati binasa. Di pagi hari si tukang kayu menemukan bangkai ular tersebut di sebelah gergaji kesayangannya.

Sahabat...
Kadangkala di saat marah, kita ingin melukai orang lain. Setelah semua berlalu, kita baru menyadari bahwa yang terluka sebenarnya adalah diri kita sendiri. Banyak perkataan yang terucap dan tindakan yang dilakukan saat amarah menguasai, sebanyak itu pula kita melukai diri kita sendiri.
Ketahuilah dendam benci/curiga/pikiran negatif apapun itu, sebenarnya bagaikan ular yang membelit gergaji, telah ribuan kali muncul dalam pikiran kita yg menusuk dan membakar hati kita sendiri.

Latihlah setiap saat untuk mengampuni, memaafkan dengan tulus, mampu dgn cepat melepaskan & membuang sampah pengotor hati dan pikiran kita sendiri.
DEMI MASA...??

Minggu, 02 September 2018

Kisah Mukidi...Luar Biasa

#Mukidi sekarang sudah Sadar , Tobat dan Alim Setelah Masuk Pesantren dan ikut Liqo#

Seorang wanita gaul bertanya pada Mukidi yang sdh soleh:

Wanita: "Kenapa sih kamu nggak mau bersentuhan tangan denganku? Emangnya aku ini hina ya?"

Mukidi: "Bukan begitu Mba, Justru saya lakukan itu karena saya sangat menghargai Mba sebagai seorang wanita"

Wanita: "Maksudmu?"

Mukidi : "Coba saya tanya sama Mba, apakah boleh seorang rakyat jelata menyentuh tangan putri keraton yang dimuliakan?"

Wanita: (Sambil mengernyitkan dahi) "T..Tentu gak boleh sembarangan dong!"

Mukidi : "Nah, Islam mengajarkan bagaimana kami menghormati semua wanita layaknya ratu yang ceritakan tadi. Hanya pangeran saja yang layak menyentuh tuan putri".

Wanita: (Sambil agak malu) "Oh.. Terus kenapa sih mesti pakai menutup tubuh segala, pake kerudung lagi, jadi gak keliatan seksinya"

MUKIDI : (Membuka sebuah rambutan, lalu memakannya sebagian. Dan mengambil sebuah lagi sambil menyodorkan 2 buah rambutan itu pada wanita tersebut) "Kalau Mba harus memilih, pilih rambutan yang sudah saya makan atau yang masih belum terbuka"

Wanita: (Sambil keheranan dan sedikit merasa jijik) "Hi.. Ya saya pilih yang masih utuh lah, mana mau saya makan bekas Mas".

Mukidi : (Sambil tersenyum) "Tepat sekali, semua orang pasti memilih yang utuh, bersih, terjaga begitu juga dengan wanita. Islam mensyariatkan wanita untuk berhijab dan menutup aurat semata-mata untuk kemuliaan wanita juga".

Wanita: "Terimakasih ya, aku semakin yakin untuk berhijab dan menutup aurat, Islam memang sangat memuliakan wanita.
Subhanallah. Ngomong-ngomong Mas Mukidi sudah punya pacar belum?"

Mukidi: "Mmm.. Saya belum punya dan bertekad tidak akan punya pacar."

Wanita : (Kebingungan) "Loh, kenapa? Bukannya semua muda-mudi sekarang punya temen istimewa"

Mukidi: "Begini Mba, kira-kira kalau Mba diberi hadiah handphone, ingin yang bekas atau yang masih baru??"

Wanita: "Ya jelas yang baru lah"

Mukidi: "Kalau suatu saat Mba menikah, mau pakai baju loakan yang harganya Rp.50.000/3 potong atau gaun istimewa yang harganya Rp.20 juta keatas"

Wanita: "Ih.. Mas ini. Ya pasti saya pilih gaun istimewa, mana mau saya pakai baju loakan, udah bekas dipegang orang, gak steril lagi. hi..."

Mukidi: "Nah, begitu juga Islam memandang pacaran Mba. Kami, diajarkan untuk menjunjung ikatan suci bernama pernikahan. menjadi pasangan yang saling mencintai karenaNya. Yang menjaga kesucian dan kehormatan dirinya sebelum akad suci itu terucap. Karena kami hanya ingin mempersembahkanyang terbaik untuk pasangan kami kelak"

Wanita: (Hatinya berdebar-debar tak menentu, kata-kata pemuda tadi menjadi embun bagi hatinya yang selama ini hampa. Matanya pun menetes) "Mas, aku semakin merasa banyak dosa. Masihkah ada pintu taubat untukku dengan semua yang sudah aku lakukan?"

Mukidi : (Matanya berbinar, perkataannya berat) "Mba, jikalah diibaratkan seorang musafir kehilangan unta beserta makanan dan minumannya di gurun pasir yang tandus. Maka kebahagiaan Allah menerima taubat hambanya lebih besar dari kebahagiaan musafir yang menemukan untanya kembali. Kalaulah kita datang dengan membawa dosa seluas langit, Allah akan mendatangi kita dengan ampunan sebesar itu juga. Subhanallah".

Wanita: (Berderai air matanya, segera ia usap dengan tisunya) "Terimakasih Mas Mukidi, saya banyak mendapatkan pencerahan hidup. Semoga saya bisa berubah lebih baik”

Mukidi: “Aamiin YRA"  Subhahanallh🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼

Ustad : Qodri

9+9=19, Masa sich...

Jack Ma Disoraki & Diprotes Saat Tulis '9+9=19' Namun Jawabannya Membungkam Semua Orang

Siapa tak kenal Jack Ma, pemilik perusahaan e-commerce top dunia, AliBaba. Selain sebagai seorang pengusaha, Jack Ma juga dikenal sebagai salah satu motivator ulung kelas dunia. Setiap orang yang pernah bertemu dan mendengar pembicaaannya selalu merasa seperti terlahir kembali dengan pola pikir baru.

Referensi pihak ketiga
Dalam salah satu sesi bicaranya, Jack Ma pernah menuliskan ini di papan tulis:

2+2= 4
4+4= 8
8+8= 16
9+9= 19
Penjumlahan tersebuat adalah sebuah hitungan matematika yang terbilang mudah, namun seluruh peserta merasa aneh dan sempat mengira bahwa Jack Ma salah menulis jawaban pada penjumlahan terakhir.

Masa iya 9+9=19?

Saat itu semua peserta dengan serentak menyorakinya dan berkata bahwa penjumlahan terakhir salah. Jack Ma tersenyum dan dengan tenang mengakuinya. Bahwa jawaban soal terakhir memang salah.

Jack Ma kemudian berkata, "tapi 3 jawaban saya sebelumnya benar, kenapa kalian tidak memuji saya, dan hanya fokus melihat kesalahan saya di satu soal?"

Perkataan Jack Ma ini seketika membungkam seluruh peserta. Demikianlah hakikat kebanyakan manusia, mudah bereaksi keras ketika melihat kesalahan orang lain, membesar-besarkannya dan meniadakan seluruh kebaikan lain yang pernah diperbuat orang tersebut. Ibarat pepatah, karena nila setitik rusak susu sebelanga.

Berdasarkan hal tersebut, Jack Ma berpesan kepada para pendengaranya, mengingat tabiat manusia yang demikian, maka seyogyanya ketika kita berbuat salah, janganlah terlalu sedih dan berlarut-larut di dalam penyesalan diri. Sebaliknya bangkitlah dan memperbaiki diri.

Karena kesuksesan sering kali diawali kesalahan demi kesalahan yang dijadikan pembelajaran.

Nah, Sahabat  sikap hidup Jack Ma ini sangat bisa loh kita adaptasi dalam kehidupan sehari-hari. Siapa tau kesuksesan menunggu kita.

- Tua itu pasti
- dewasa itu pilihan...
- Yang sulit menjadi org bijak...