Jumat, 22 Februari 2019

GONTOR DARI DALAM

Mata saya selalu basah membayangkan suasana ini,  tulisan ini bukan hayalan,  ini nyata dan disampaikan oleh saksi mata yg orangnya masih hidup. Membayangkan sosok sepuh yang sudah pengalaman dalam hal pengembangan pesantren dan totalitas beliau dalam dunia pendidikan,  bahakan masalah "sepele" sekalipun,  masalah HUJAN... ya hal ringan ini telah merubah kebiasaan santri Gontor sampai sekarang.. Allahuma Yarham...

Silahkan dibaca sendiri..

Hasanain Juaini

GONTOR DARI DALAM:

Pidato Pak Zar Menyambut Musim Hujan

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum Wa. Wb.

Ada saja hal kecil yang secara automatis mengungkit kembali kenangan lama semasa menjadi santri KH Imam Zarkasi. Pagi ini, ketika rintik-rintik kecil menatap wajah Jakarta, mendadak fikiran saya melayang ke tahun 1980, musim hujan pertama saya di Gontor. Pagi itu jum'at, hari tidak masuk kelas di Gontor. Tidak biasanya lonceng panjang berdentang panjang sekali. Pertanda semua penduduk Gontor harus kumpul di BPPM, tanpa kecuali. Semua faham itu perintah otoritas tertinggi yang arus dipatuhi.

Nampaknya pertemuan itu sama sekali tidak direncanakan, sehingga Bagian Pengasuhan santri dan Bagian keamanan OPPM serentak berseliweran baik dengan berlari atau menggunakan sepeda untuk menggesa santri-santri yang saat itu kebanyak tidur, tidur-tiduran, lesehan dan duduk bersender di dinding-dingding rayon atau tiang-tiang didepan koredor.

"Hayya hayya hayya bissur'ah ...ayo cepat cepat cepat. teriak mereka sahut menyahut.

Pak Zar sudah duduk lebih dahulu di atas kursi tinggi di depan podium sambil menunggu kedatangan para guru dan santri, sementara Bagian Penerangan OPPM sangat sibuk menyiapkan sound system.

Lokasi rayon saya paling dekat, Kibar Baru, hanya beberapa puluh langkah dari gedung pertemuan. Saya dengar gemuruh suara kaki berlarian menuju Aula besar itu, namun begitu kaki memasuki gerbang, mendadak ayunan dan hentakan kaki diperlemah seperti berjinjit menghindari suara gesekan dengan tegel yang licin. Di depan panggung nampak jelas Pak Zar sudah duduk menunggu. Mana ada yang berani bikin ribut?!

Sekitar 15 menit kemudian seribuan lebih santri sudah duduk khusyuk di dalam Aula, para guru dan bagian keamanan berdiri mengitari karena tidak kebagian tempat duduk [begitulah aturan tak tertulis di Gontor, yang besar menyayangi yang kecil]. Semua tertanya-tanya, apa gerangan kejadian penting yang akan disampaikan Pak Kiyai.

Seperti biasa Pak Zar akan mengetuk-ngetuk mike [tidak pakai suara seperti hallo...hallo tes...tes tes, atau chek...chek...chek. Sama sekali tidak pernah begitu]. Show then begun!

Pak Zar kerap mengingatkan: "Khairul bidaayati nisful amal " = permulaan yang baik adalah setengah dari keberhasilan. Dan beliau adalah orang yang paling rigid dalam menjalankan metode pengajaran. Kali ini beliau akan melaksanakannya.

Bismillah...Salam...tahmid dan shalawat kemudian dialog pembukaan:

Pak Zar: Apa yang kamu lakukan kalau lapaaaar?
Santri : Makaaaaaaaaaaan....!

Pak Zar: Kalau hauuuuus?
Santri : Minuuuuuuuum...!

Pak Zar: Kalau ada orang yang belum lapar dan haus tapi makan dan minuum, apa namanya?
Santri: Rakuuus.

Pak Zar sudah merasa cukup melakukan warming-up, yang dalam metode pengajaran dinamakan 'Al-muqaddimah bil as'ilatil al-muta'alliqati bil makluumatissabiqoh' = dialog pembuka tentang apa-apa yang SANGAT MUNGKIN DIKUASAI oleh audien. Beliau kemudian masuk kedalam inti tujuan perkumpulan itu.

Apapun masalahnya, Pak Zar selalu punya cerita yang sesuai dengan topik yang akan disampaikan. Entah sudah disiapkan sebelumnya atau spontanitas karena kapasitas orang-orang hebat memang demikian. Saya juga pernah mendengar beberapa pidato Bung Karno, M. Natsir, Hamka bahkan pemimpin populer Venezuela, Hugo Chaves selalu mengawali pidatonya dengan cara seperti itu. Kali ini beliau bercerita tentang Kunjungan Pak Natsir ke Jepang. Konon pak Natsir masih tidur kedinginan di dalam hotelnya di Tokyo sampai pagi. Tak lama kemudian terdengar pintu diketuk, ternyata beberapa orang dokter dan perawat sudah menunggu di luar dan meminta izin untuk merawat beliau. Kontan Pak Natsir kaget dan menyatakan bahwa beliau baik-baik saja. Namun para dokter dan perawat bertanya keheranan: Kalau Tuan sehat sehat saja mengapa sampai siang begini Bapak masih tidur saja?

Para guru dan santri yang dari tadi mendongak ke arah panggung dan kursi tinggi itu lalu mendapat berondongan pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban:

Pak Zar: Tadi saya keliling Pondok ... di mana-mana di majid, di kelas, di rayon ... di manapun saya lihat anak-anak tidur, duduk duduk, malas malasan... Padahal kalian semua belum bekerja apa-apa; Belum lapar kok makan, belum capek kok istirahat ... itu apa namanya...? Beliau berteriak lantang sekali.

Mendadak kepala kita semua memuat assosiasi kepada dokter dan perawat Jepang itu dan serentak menjawab: " Sakiiiiiiit...."

Pak Zar mengetuk mike...semua terdiam.

Beliau meneruskan: "Hujan? Ya Hujan!. Bukankah hujan itu rahmat? Mengapa kalian menyambut rahmat Allah dengan tidur dan malas-malasan? Siapa yang mengajarkan kalian begitu? Tak ada jawaban.

Pak Zar meneruskan:

"Menurut ilmu jiwa, orang yang sakit karena hujan itu adalah mereka YANG KEHUJANAN, sedangkan MEREKA YANG BERMAIN HUJAN tidak akan sakit, bahkan menjadi lebih segar dan lebih sehat. Kalian semua adalah pemuda-pemuda yang tangguh, bukan garam yang akan meleleh kalau diguyur hujan."

Pak Zar: Mengerti?.

Jawaban gemuruh, memekakkan telinga: " Ngertiiiiiii!!!"

Wassalamu'alaikum ... pertemuan ditutup dengan hamdalah...

Sejak saat itu, semua isi pondok seperti kena setrum, melompat dari posisinya dan berkeliaran menyongsong hujan. Tidak ingin menjadi "Pemuda Garam" yang takut dan menghindari hujan. Begitulah guru dan pendidik telah meletakkan pungsi hujan pada proporsinya. Hujan adalah rahmat. Tidak sepantasnya menjadi penghambat.

Jika Walsantor sempat ke Gontor di musim hujan... maka buktikan cerita saya ini. Tak akan ada anak-anak meringkuk lesu dan tidur jika hujan deras mengguyur. Mereka justru berlarian ke tengah hujan ada-ada saja yang dilakukan. Maka saya berani menebak kalau "Keseblasan Santri Gontor" diadu diatas lapangan becek, mereka pasti tidak akan terkalahkan. Hujan dan becek adalah rahmat bukan perkara undangan menuju 'pulau kapuk***'

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Penggilingan, 14 Desember 2013
***Pulau kapuk = kasur tempat tidur

Kamis, 21 Februari 2019

Bacalah.....Iqra'...

Dari K.H Hasanain Juaini ( Pengasuh P.M Nurul Haromain NTB )
BAYAR CERITA SAYA INI DENGAN KOMENTAR (YA?)

FAQROH ULA

Ibu - bapak pasti tahu nama Kyai Haji Imam Zarkasyi, tapi bisakah anda membayangkan sosoknya? Atau melihat langsung aksinya?

Di kamar tidur beliau selalu tergelar sajadah yang diatasnya ada untaian tasbih. Saya tahu tahu karena sering menyapu ruangan itu. Allahumma saya bersyukur dapat mengabdikan hidupku untuk beliau. Di belakang sajadah itu dekat jendela ada kertas HITAM bertuliskan tinda emas berbunyi: "Sehari harus bekerja 18 jam. Istirahat adalah mengganti jenis pekerjaan".

Diluar jam mengajar beliau keluar rumah, memakai kaos oblong warna putih cap kodok dan mengalungkan handuk kecil untuk menyeka keringat. Biasanya membawa alat2 pertukangan seperti martil, obeng atau tang. keliling melihat-lihat papan tulis yang tergantung tidak rapi maka diluruskan, memeriksa meja bangku yang ringkih maka dipasaknya, pintu2 kelas yang engselnya rusak dicatat dan diperintahkan untuk diperbaiki.

Jika ada kelas yang kosong, maka beliau masuk mengajar. jika ada sebelahnya lagi yang kosong maka ditingggalkan songkoknya dikelas yang dimasuki terdahulu dan beliau memasuki kels kosong yang ribut itu. Sering terjadi beliau langsung pulang setelah mengisi kelas dengan amat sangat serius, maka songkok hitamnya ketinggalan di kelas sehinga tak satupun santri yang berani meninggalkan kelas sebelum beliau datang kembali mengambil songkoknya (sekalipun sudah jam pulang). ketua kelas harus mendatangi beliau dan bertanya apakah beliau akan masuk kembali agar kami menunggunya?

Kalau berpapasan dengan santri yang tidak membawa buku maka beliau akan mencegat dan menanyakan: mengapa tidak membawa buku? Kalau bertemu dengan anak yang membawa buku tapi tidak membacanya beliau juga bertanya: Mengapa buku dibawa kok tidak dibaca? ( maaf saya selalu menangis kalau mengingat-ingat hal ini).

Satu hari saya berpapasan dengan beliau dan didepan saya ada sobekan koran. Beliau perintahkan " PUNGUT !". sayapun memungutnya dan hendak membuangnya ke tong sampah, namun beliau memerintahkan saya untuk membacanya dahulu. Karena korannya sudah lama dan usang sayapun menjawab: Maaf Pak Yai ini koran lama. Dengan pandangan mata yang teramat tajam beliau menatap saya, rasa merindingnya masih sampai sekarang. Beliau bilang dengan lirih: Ya bunayya korannya memang lama, tapi apa kamu sudah membacanya atau belum?

Kejadian itu didepan Perdos (Perumahan Dosen, berada dibelakang rumah lama Keluarga Kyai Imam Zarkasyi). Peristiwanya tidak berhenti sampai disitu. saya diminta duduk dan membaca potongan koran lusuh itu. Ketika selesai sayapun bangkit minta diri, tapi beliau meminta potongan koran itu dan mulai menanyai saya hampir lima puluhan pertanyaan yang bersumber dari satu alinea saja bahan bacaan itu, tentu saja saya KO berat. Diakhir peristiwa itu beliau berkata: Anak Lombok ya? Makanya kalau membaca jangan setengah setengah. belum lima menit saja sudah lupa. Baca yang bagus...."mocone sing telaten"

Keesokan harinya dalam wejangan untuk kelas Lima (saya kelas lima waktu itu, tahun 1981) beliau menceritakan kasus itu dan menegaskan:

" Di dalam rumah saya ada aturan, bahwa anak-anak saya yang tidak sedang membaca akan disuruh bekerja terur...terus...terus....sampai dia meminta waktu istirahat dan istirahatnya adalah untuk membaca. Hanya anak yang sakit saja yang boleh tidak membaca dan tidak bekerja"

KETIKA MENONTON FILM NEGERI 5 MENARA, SAYA MENYESAL TIDAK DIIKUTKAN MEMBERI MASSUKAN SEHINGGA SEHARUSNYA KEJADIAN SEPERTI ITU DIMASUKKAN UNTUK MENGGETARKAN DUNIA. " Iqro ya Bunayya "

SEKILAS TERDENGAR BIASA TAPI BISA BERBAHAYA.


1. Seorang teman bertanya : 'Berapa gajimu sebulan kerja di toko itu ?".
Ia menjawab : "1,5 juta rupiah".
"Cuma 1,5 juta rupiah? sedikit sekali ia menghargai keringatmu. Apa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupmu ?".

Sejak saat itu temanmu jadi membenci pekerjaannya. lalu dia meminta kenaikan gaji pada pemilik toko, pemilik toko menolak dan mem PHK nya. Kini temanmu malah tidak berpenghasilan dan jadi pengangguran.

2. Saat arisan seorang ibu bertanya : "Rumahmu ini apa tidak terlalu sempit ? bukankah anak2 mu banyak ?".

Rumah yang tadinya terasa lapang sejak saat itu mulai dirasa sempit oleh penghuninya. Ketenangan pun hilang saat keluarga ini mulai terbelit hutang kala mencoba membeli rumah besar dengan cara kredit ke bank.

3. Saudara laki2nya bertanya saat kunjungan seminggu setelah adik perempuannya melahirkan : "Hadiah apa yang diberikan suamimu setelah engkau melahirkan ?"
"tidak ada" jawab adiknya pendek.
Saudara laki2 nya berkata lagi : "Masa sih, apa engkau tidak berharga disisinya ? aku bahkan sering memberi hadiah istriku walau tanpa alasan yang istimewa".
Siang itu, ketika suaminya lelah pulang dari kantor menemukan istrinya merajuk dirumah, keduanya lalu terlibat pertengkaran. Sebulan kemudian, antara suami istri ini terjadi perceraian.

Dari mana sumber masalahnya ?
Dari kalimat sederhana yang diucapkan saudara laki2 kepada adik perempuannya.

4. Seseorang bertanya pada kakek tua itu : "Berapa kali anakmu mengunjungimu dalam sebulan ?" Si kakek menjawab : "Sebulan sekali".
Yang bertanya menimpali : "Wah keterlaluan sekali anak2mu itu. Diusia senjamu ini seharusnya mereka mengunjungimu lebih sering".

Hati si kakek menjadi sempit padahal tadinya ia amat rela terhadap anak2 nya. Ia jadi sering menangis dan ini memperburuk kesehatan dan kondisi badannya.

APA SEBENARNYA KEUNTUNGAN YANG DIDAPAT KETIKA BERTANYA SEPERTI PERTANYAAN2 DIATAS ITU ???

Jagalah diri dan jangan mencampuri kehidupan orang lain.
Jangan Mengecilkan dunia mereka. Menanamkan rasa tak rela pada yang mereka miliki. Mengkritisi penghasilan dan keluarga mereka dan lain2
Kita akan menjadi agen kerusakan di muka bumi dengan cara ini. Bila ada bom yang meledak cobalah introspeksi diri, bisa jadi kitalah sebenarnya yang menyalakan sumbunya..

Semoga bermanfaat....

#copas#