Selasa, 24 April 2018

Jangan Pernah Ragu... Karena pertolongan ALLAH itu begitu Dekat...

Alkisah. Ibu Risa mengenal wanita itu sebagai seorang asisten rumah tangga di lingkungan komplek rumah. Mereka pun sering berpapasan, entah itu di sekolah anak, di jalan, atau di tukang sayur. Seperti halnya ketemu orang yang dikenal, mereka pun saling sapa dan tanya ini itu tentang kegiatan sehari-hari.

Suatu hari, saat bersiap-siap akan pergi, wanita itu tiba-tiba datang ke rumah ibu Risa dengan bercucuran air mata. Dia terpaksa menahan malu untuk meminta tolong. Tapi demi adiknya yang akan mengikuti ujian dan perlu biaya besar dia pun berniat menggadaikan motornya kepada ibu Risa.

Ibu Risa ikut sedih mendengar ceritanya. Apalagi dia bilang, ibunya sedang sakit-sakitan. Sambil bekerja sebagai ART, dia merawat ibunya yang berjalan pun susah karena mengalami pengapuran kaki. Ibu Risa berusaha berempati dengan mendengarkan cerita wanita itu.

Ibu Risa juga sebenarnya bingung harus membantu dengan apa karena dia memang tidak bekerja dan tidak memegang banyak uang. Ia hanya diamanahi uang belanja keperluan sehari-hari oleh suaminya. Akhirnya, dia mengatakan akan berbicara pada sang suami dan meminta kepada wanita itu untuk bersabar menunggu.

Hari demi hari berlalu. Suatu ketika, ibu Risa mengikuti pengajian di mesjid dekat rumahnya. Dia tertegun dengan perkataan sang ustadzah yang berceramah dan berkata, “Setiap orang yang minta tolong padamu, pasti tetap akan Allah SWT tolong. Baik oleh kamu maupun orang lain. Ini adalah tentang berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan.”

Mendengar demikian, ibu Risa langsung teringat dengan wanita yang beberapa hari lalu datang ke rumahnya. Ibu Risa menyadari bahwa tak bisa dipungkiri ada tangan Tuhan yang menjadikan dia datang padanya untuk minta tolong.

Akhirnya, dengan niat menolong, ibu Risa pun pergi ke bank untuk mengambil tabungan anaknya untuk dipinjamkan kepada wanita itu. Memang tidak cukup seperti yang wanita itu butuhkan, tapi setidaknya bisa membantunya mencicil uang ujian adiknya.

Wanita itu pun berterima kasih dengan mata berkaca. Ibu Risa tahu, kondisi dia tak jauh lebih baik dari wanita itu. Ibu Risa juga tahu, manusia adalah tempatnya kecewa. Ibu Risa berharap, Allah SWT memberi wanita itu kemudahan dalam membayar hutangnya kelak dan Allah SWT juga memberinya keikhlasan dan kelapangan rejeki.

Ibu Risa tak ingin pusing memikirkan balasan kebaikan. Dia cukup percaya Allah SWT akan menolong hambaNya yang memohon pertolongan. Setelah ibu Risa memberi pinjaman kepada wanita itu, satu demi satu pertolongan Allah pun datang menghampiri ibu Risa. Tanpa diduga, tiba-tiba saja orang tuanya mengirim paket makanan dan angpao. Begitu pula rekeningnya bertambah jumlahnya dari kegiatan ngeblog yang dilakukan. Semuanya pas untuk memenuhi kebutuhannya.

Sahabat. Disadari atau tidak, ketika kita membantu dan memberi pertolongan kepada orang lain, sebenarnya kita juga sedang menolong diri sendiri. Ada saatnya kita akan menyadari kalau sesungguhnya pertolongan Allah SWT itu begitu dekat.

Pemuda yang mendapatkan 2 surga sekaligus...



Alkisah. Suatu ketika di zaman Khalifah Umar bin Khattab, ada seorang pemuda yang rajin datang ke masjid untuk shalat berjamaah, tertegun hatinya dan jiwa mudanya bergelora saat melihat seorang gadis muslimah.
Melihat ada peluang, ia pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menyatakan isi hatinya yang terlanjur tertambat pada gadis muslimah itu. Namun seketika imannya berbicara bahwa bukan begitu caranya mengungkapkan isi hati. Tidak dengan berduaan, karena yang ketiga adalah setan, serta tidak dengan berpacaran melanggar batas (hijab) antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya.
Akhirnya, pemuda itu pun tersentak dan tersadar akan apa yang baru saja dilakukannya. Ia pun segera meninggalkan gadis muslimah itu. Sesaat ia menyendiri dan menyesali dengan apa yang baru saja diperbuatnya. Ia menghela nafas panjang dan dalam, dan tiba-tiba “brug…!” ia terjatuh pingsan. Pamannya yang mengetahui keadaannya, bersama beberapa jamaah setempat, membawanya pulang ke rumahnya.
Setelah sadar, pemuda itu lalu berkata, ”Wahai paman, temuilah Khalifah Umar dan sampaikan salamku kepadanya. Tanyakan kepadanya, apakah balasan orang yang takut saat bertemu Tuhannya?”
Lalu, setelah pamannya menanyakan kepada Khalifah Umar dan Umar memberikan jawabannya, sang pemuda saleh itu pun meninggal dunia, menghadap Tuhannya.
Jawaban Umar adalah, ”Ia akan mendapatkan dua surga.”
Referensi pihak ketiga
Ternyata, bagi orang yang takut kepada Allah SWT, selalu berusaha menjalankan perintahNya dan meninggalkan maksiat, mampu menahan hawa nafsu, tidak terpedaya urusan dunia, maka, bagi orang seperti itu, kelak pada hari pembalasan akan dikaruniai Allah SWT dengan dua surga. Mereka mendapatkan dua surga, yakni surga sebagai balasan menunaikan ketataan, dan satu surga sebagai balasan meninggalkan kemaksiatan.
Rasulullah SAW menggambarkan bagaimana dua surga itu dengan kalimat, “Dua surga yang bejana dan semua yang ada di dalamnya terbuat dari perak, dan dua surga yang bejana dan semua yang ada di dalamnya terbuat dari emas. Dan jarak antara suatu kaum dan kesempatan mereka melihat Tuhannya hanyalah selapis selendang kebesaran pada wajahNya di Surga ‘Adn.”
Sahabat. Memang tidak mudah untuk menggapai rasa takut kita kepada Allah SWT, dan menjauhi godaan kemaksiatan yang ada di depan mata dan terbuka kesempatan untuk itu. Tapi justru di saat seperti itulah, Allah SWT janjikan dengan dua surga abadi. Bukan surga semu, kenikmatan sesaat, yang hanya akan menghalau ke jurang nista dunia dan neraka akhirat.

Nilai Luhur sebuah Keikhlasan...



Alkisah. Suatu hari seorang anak sedang berada di pasar. Entah kenapa, sejak tadi anak kecil itu mondar mandir di depan sebuah toko ramuan obat dengan gerak-gerik yang mencurigakan. Ketika keadaan sudah mulai sepi, si anak kecil tadi menyelinap masuk dan mencuri beberapa ramuan obat.
Sayangnya, anak kecil itu ketahuan sang pemilik toko dan diteriaki maling. Akhirnya anak tersebut tertangkap dan hendak dihakimi warga yang ada di sekitar toko obat tersebut. Untunglah, saat itu seorang penjual mie ayam yang melihat kejadian itu lalu segera berusaha melindungi anak kecil tadi. "Sabar-sabar saudara-saudara, jangan langsung menghakimi seseorang, ini negara hukum", ucap si penjual mie ayam tersebut. "Saya yakin, tidak semua orang mau jadi pencuri kecuali memang keadaan yang memaksanya mencuri, apalagi ini masih anak kecil. Jangan main hakim sendiri," lanjut si penjual mie ayam.
Referensi pihak ketiga
Akhirnya, setelah si penjual mie ayam berhasil meredakan emosi warga, ia lalu bertanya kepada anak kecil tadi kenapa mencuri ramuan obat tersebut. Si anak kecil pun menjawab, "Ayah saya sakit keras dan butuh obat, sedang kami keluarga yang sangat miskin, untuk makan saja udah 4 hari ini saya dan ayah saya tidak makan. Ibu saya sudah meninggal 3 tahun yang lalu. Saya kuatir kalau ayah saya tidak segera ditolong, ayah saya bisa meninggal", ujar anak kecil tadi sambil terisak menahan tangis dan gemetaran.
Si penjual mie ayam pun berkata, "Ya sudah, ramuan obat ini biar saya yang bayarin," sembari langsung memberikan sejumlah uang kepada toko ramuan obat tadi. Si penjual mie ayam juga memberi 2 bungkus mie ayam kepada si anak kecil tadi untuk di bawa pulang, buat makan bersama ayahnya.
Waktu pun berlalu, dan si penjual mie ayam itu pun kini sudah berumur lanjut, hidup sebatangkara bersama istrinya karena tidak dikarunia anak. Suatu hari, si penjual mie ayam ini pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Hasil diagnosa dari pihak rumah sakit adalah menyatakan bahwa dia harus pasang ring jantung dan perkiraan biaya adalah minimal 50 juta. Pihak rumah sakit mengatakan, "Jika memang setuju untuk dioperasi, maka akan dipanggilkan dokter spesialis penyakit jantung"
Hal ini tentu membuat istri si penjual mie ayam bingung bukan kepalang. Satu sisi dia ingin suaminya pulih seperti sedia kala, tapi di sisi lain dia tidak punya uang untuk biaya operasi. Akhirnya, keputusan pun diambil sang istri yaitu setuju untuk dioperasi. Untuk biayanya, dia akan berusaha mencari pinjaman. Dokter spesialis jantung pun didatangkan oleh pihak rumah sakit.
Sang istri pun mendatangi satu per satu tetangganya, teman, dan siapapun yang bisa dimintai tolong, namun tidak ada satu pun yang bersedia membantu. Dengan kondisi yang sudah lelah, sang istri pun kembali ke rumah sakit. Sang istri makin kaget karena suaminya dipindahkan ke kamar VIP yang biaya sewanya bisa berlipat-lipat. Sang istri pun masuk kamar di mana sang suami dirawat.
Hingga 3 hari kemudian, sang suami pun sadar dan pihak rumah sakit memperbolehkannya pulang. Sang istri pun dengan nada cemas berkata kepada pihak rumah sakit, "Tapi saya nggak punya uang, saya sudah berusaha kesana kemari untuk pinjam uang, namun belum dapat juga. Kalau boleh, tolong kasih tenggang waktu pembayaran agar bisa saya cicil."
Pihak rumah sakit tersenyum dan berkata, "Semua sudah dibayar lunas bu oleh pemilik rumah sakit ini dan pemilik rumah sakit ini juga yang mengoperasi suami ibu karena beliau adalah dokter ahli jantung. Beliau menitipkan secarik surat ini untuk bapak dan ibu", ujar pihak rumah sakit sambil memberikan secarik surat tersebut.
Sepasang suami istri itu pun lalu membuka surat tersebut dan membacanya, "Saya adalah anak yang dulu mencuri obat ramuan dan bapak dulu menolong saya bahkan memberi saya 2 bungkus mie ayam agar kami bisa makan. Sejak kejadian itu, saya bertekad untuk menjadi dokter dan menjadi orang sukses agar bisa bermanfaat untuk orang banyak, terutama yang butuh bantuan medis tetapi tidak memiliki uang. Saya sangat memahami bagaimana ayah saya dulu sakit keras, namun biaya sama sekali tidak bisa kami jangkau kala itu. Biaya operasi jantung serta kamar VIP serta seluruh obat-obatan sudah saya tanggung semua, namun saya meminta balasan atas itu semua kepada bapak dan ibu yaitu bersediakah bapak dan ibu menjadi orang tua angkat saya? Ayah saya sudah meninggal dan saya hanya hidup bersama anak dan istri saya. Mohon kabulkan permohonan saya ini. Salam."
Sahabat. Jangan pernah berhenti untuk berbuat baik karena kita tidak akan pernah tahu bagaimana balasan yang Allah berikan atas kebaikan yang kita tebarkan. Biarlah itu menjadi urusan Allah.

Kyai Al Qodri Kaya Raya...

Alkisah. Ada seorang ulama kharismatik bernama Kyai Al Qodri membeli sebuah mobil mewah seharga hampir 500 juta rupiah. Padahal, di rumahnya sudah ada mobil yang juga cukup mahal, kira-kira harga 200 juta rupiah. Mobil mewah pun kemudian dipakai untuk mudik lebaran sebagaimana lazimnya para perantau yang lain.

Suatu ketika, datanglah seorang tamu bernama Imron Khan ke kediaman sang kyai untuk bersilaturrahim dan halal bihahal dengannya. Melihat dua mobil mewah terparkir di depan rumah sang kyai, si tamu itu pun tak tahan untuk bertanya, “Mohon maaf kyai. Itu mobil mewah kepunyaan kyai?”

"Ya, itu mobil saya. Kenapa? sang kyai bertanya balik.

"Enggak apa-apa, Kyai. Ngomong-ngomong harganya berapa? Kok keren banget?” ujar si tamu semakin ingin tahu

“Ah, itu mobil murah, cuma 475 juta.” jawab sang kyai.

Mendengar jawaban sang kyai demikian, si tamu pun tercengang. Benaknya mulai memberontak, rasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dalam hatinya dia bertanya, mana mungkin seorang kyai yang kesibukannya mengajar di pesantren mampu membeli mobil dengan harga demikian fantastis?

Entah apa yang ada dalam pikiran si tamu, tiba-tiba ia memberanikan diri untuk menegur sang kyai. “Mohon maaf, Kyai. Anda ini kan seorang kyai, kenapa Anda malah mengajarkan kepada santri untuk cinta dengan duniawi?”

"Kok bisa?” sahut sang kyai.

“Ya jelas, karena kyai membeli mobil mewah, padahal kan sudah punya mobil mahal.” tukas si tamu.

Lalu sang kyai pun menjawab, “Kalau orang melihat saya beli mobil, lalu mereka ingin seperti saya. Tapi kenapa kalau saya shalat malam orang tidak ingin seperti saya. Kalau saya zikir malam kenapa mereka tak ingin seperti saya. Kalau saya berbuat baik kenapa orang tak ingin berbuat baik seperti saya.”

Mendengar jawaban sang kyai, si tamu pun terdiam dan merenungkan apa yang baru saja diucapkan oleh sang kyai. Ia pun seperti sadar bahwa dirinya sudah terkena wabah iri terhadap hal-hal duniawi bukan iri terhadap hal-hal ukhrawi.

Sahabat. Hakikat cinta dunia sesungguhnya tak harus selalu diukur dari seberapa besar harta dan kekayaan yang dimiliki, namun sifat zuhud bergantung pada sikap batin. Seseorang yang memiliki kecenderungan hati pada kesenangan duniawi, meski tampak tak punya harta sama sekali, itu sudah masuk cinta dunia. Sebaliknya, meski memiliki harta kekayaan yang melimpah namun batinnya cenderung ke akhirat dan memanfaatkan harta untuk kepentingan agama, itulah sebenarnya hakikat zuhud yang sejati. Wallahu a'lam.

(bila ada kesamaan nama tokoh,  itu hanya kebetulan belaka)