Selasa, 26 November 2019

DIPOTONG LIDAH KARENA MEMUJI NABI MUHAMMAD SAW DENGAN LANTUNAN SYA'IR SHALAWAT

Dahulu Kala Ada seorang penyair hebat dan sangat terkenal yaitu Syaikh Farazdaq dimana beliau selalu asyik memuji Rasulullah SAW., beliau mempunyai kebiasaan melakukan ibadah haji setiap tahunnya
Suatu waktu ketika beliau melakukan ibadah haji kemudian datang berziarah ke makam Rasulullah SAW. dan membaca qasidah di makam beliau dan ketika itu ada seseorang yang mendengarkan qasidah pujian yang dilantunkannya.

Setelah selesai membaca qasidah, orang itu menemui Sang Penyair dan mengajak beliau untuk makan siang ke rumahnya. Beliau pun menerima ajakan orang tersebut dan setelah berjalan jauh hingga keluar dari Madinah al-Munawwarah sampailah keduanya di rumah yang dituju.

Sesampainya di dalam rumah, orang tersebut memegangi Sang Penyair dan berkata: “Sungguh aku sangat membenci orang-orang yang memuji-muji Muhammad, dan ku bawa engkau ke sini untuk ku gunting lidahmu!”

Maka orang itu menarik lidah beliau lalu mengguntingnya dan berkata: “Ambillah potongan lidahmu ini dan pergilah untuk kembali memuji Muhammad!”

Maka Sang Penyair pun menangis karena rasa sakit dan juga sedih tidak bisa lagi membaca syair untuk Sayyidina Muhammad SAW. Kemudian beliau datang ke makam Rasulullah Saw. seraya berdoa: “Ya Allah jika penghuni makam ini tidak suka atas pujian-pujian yang aku lantunkan untuknya maka biarkan aku tidak lagi bisa berbicara seumur hidupku, karena aku tidak butuh kepada lidah ini kecuali hanya untuk memuji-Mu dan memuji Nabi-Mu. Namun jika Engkau dan Nabi-Mu ridha maka kembalikanlah lidahku ini ke mulutku seperti semula.”

Beliau terus menangis hingga tertidur dan bermimpi jumpa dengan Rasulullah SAW. yang berkata:

“Aku senang mendengar pujian-pujianmu, berikanlah potongan lidahmu.”

Lalu Rasulullah SAW. mengambil potongan lidah itu dan mengembalikannya pada posisinya semula. Ketika Sang Penyair ( Syaikh Farazdaq ) terbangun dari tidurnya beliau mendapati lidahnya telah kembali seperti semula, maka beliau pun bertambah dahsyat memuji Rasulullah SAW.

Hingga di tahun selanjutnya beliau datang lagi menziarahi Rasulullah SAW. dan kembali membaca pujian-pujian untuk Rasulullah SAW. Dan di saat itu datanglah seorang yang masih muda dan gagah serta berwajah cerah menemui beliau dan mengajak beliau untuk makan siang di rumahnya.
Beliau teringat kejadian tahun yang lalu namun beliau tetap menerima ajakan tersebut sehingga beliau dibawa ke rumah anak muda itu. Sesampainya di rumah anak muda itu, beliau dapati rumah itu adalah rumah yang dulu pernah beliau datangi lalu lidah beliau dipotong.

Anak muda itu pun meminta beliau untuk masuk yang akhirnya beliau pun masuk ke dalam rumah itu hingga mendapati sebuah kurungan besar terbuat dari besi dan di dalamnya ada kera yang sangat besar dan terlihat sangat beringas, maka anak muda itu berkata: “Engkau lihat kera besar yang di dalam kandang itu, dia adalah ayahku yang dulu telah menggunting lidahmu, maka keesokan harinya Allah merubahnya menjadi seekor kera.”

Dan hal yang seperti ini telah terjadi pada ummat terdahulu, sebagaimana firman Allah Swt.:

فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ ( الأعراف

“Maka setelah mereka bersikap sombong terhadap segala apa yang dilarang, Kami katakan kepada mereka: “Jadilah kalian kera yang hina”. (QS. al-A’raf ayat 166)

Kemudian anak muda itu berkata: “Jika ayahku tidak bisa sembuh maka lebih baik Allah matikan saja.”

Maka Syaikh Farazdaq berdoa: “Ya Allah aku telah memaafkan orang itu dan tidak ada lagi dendam dan rasa benci kepadanya”. Dan seketika itu pun Allah SWT. mematikan kera itu dan mengembalikannya pada wujud yang semula.

Dari kejadian ini jelaslah bahwa sungguh Allah SWT. mencintai orang-orang yang suka memuji Nabi Muhammad SAW. Karena pujian kepada Nabi Muhammad SAW. disebabkan oleh cinta dan banyak memuji kepada Nabi Muhammad SAW. berarti pula banyak mencintai beliau.

Dan semakin banyak orang yang berdzikir, bershalawat dan memuji Nabi Muhammad SAW., maka Allah akan semakin menjauhkan kita, wilayah kita dan wilayah-wilayah sekitar dari musibah dan digantikan dengan curahan rahmat dan anugerah dari Allah SWT.

( Dikisahkan Oleh Almaghfurlah Al Habib Mundzir bin Fuad Al Musawwa )

#Wallahu'alam

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Sabtu, 09 November 2019

Tragedi Buah Apel

Seorang lelaki yang sholeh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat Sebuah apel jatuh keluar pagar sebuah kebun buah-buahan.

Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah membuat air liur Tsabit terbit, apalagi di hari yang panas dan tengah kehausan. Maka tanpa berfikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang lezat itu, akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahwa buah itu bukan miliknya dan dia belum mendapat izin pemiliknya.

Maka ia segera pergi kedalam kebun buah-buahan itu hendak menemui pemiliknya agar meminta dihalalkan buah yang telah dimakannya. Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki.

Maka langsung saja dia berkata, "Aku sudah makan setengah dari buah apel ini. Aku berharap anda menghalalkannya".

Orang itu menjawab, "Aku bukan pemilik kebun ini. Aku Khadamnya yang ditugaskan menjaga dan mengurus kebunnya".

Dengan nada menyesal Tsabit bin Ibrahim bertanya lagi, "Dimana rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkannya apel yang telah ku makan ini."

Pengurus kebun itu memberitahukan, "Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalan sehari semalam".

Tsabit bin Ibrahim bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu. Katanya kepada orang tua itu, "Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku karena tanpa izin pemiliknya. Bukankah Rasulullah s.a.w. sudah memperingatkan kita melalui sabdanya: "Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka"

Tsabit bin Ibrahim pergi juga ke rumah pemilik kebun itu, dan setiba di sana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata,

"Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh ke luar kebun tuan. Karena itu maukah tuan menghalalkan apa yang sudah ku makan itu?"

Lelaki tua yang ada dihadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata tiba-tiba, "Tidak, aku tidak boleh menghalalkannya kecuali dengan satu syarat."
Tsabit bin Ibrahim merasa khawatir dengan syarat itu kerana takut ia tidak dapat memenuhinya.

Maka segera ia bertanya, "Apa syarat itu tuan?" Orang itu menjawab, "Engkau harus mengawini putriku !"

Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata, "Apakah karena hanya aku makan setengah buah apelmu yang keluar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu?"

Tetapi pemilik kebun itu tidak mempedulikan pertanyaan Tsabit bin Ibrahim. Ia malah menambahkan, katanya,

"Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang yang lumpuh!"

Tsabit bin Ibrahim amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berfikir dalam hatinya, apakah perempuan seperti itu patut dia persunting sebagai isteri gara-gara setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya?

Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi, "Selain syarat itu aku tidak akan menghalalkan apa yang telah kau makan !"

Namun Tsabit bin Ibrahim kemudian menjawab dengan mantap,

"Aku akan menerima pinangannya dan perkawinanya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul 'alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta'ala".

Maka pernikahan pun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Sesudah perkawinan selesai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui isterinya.

Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berfikir akan tetap mengucapkan salam walaupun isterinya tuli dan bisu, kerana bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun mengucapkan salam, "Assalamu"alaikum..."

Tak disangka sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi jadi isterinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk hendak menghampiri wanita itu, dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya. Sekali lagi Tsabit terkejut karena wanita yang kini menjadi isterinya itu menyambut uluran tangannya.

Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini. "Kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamnya dengan baik. Jika demikian berarti wanita yang ada dihadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahwa dia buta dan lumpuh tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula", Kata Tsabit bin Ibrahim dalam hatinya.

Tsabit bin Ibrahim berfikir, mengapa ayah mertuaya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan yang sebenarnya ?

Setelah Tsabit bin Ibrahim duduk di samping isterinya, dia bertanya, "Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta. Mengapa?"

Wanita itu kemudian berkata, "Ayahku benar, karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah".

Tsabit bin Ibrahim bertanya lagi, "Ayahmu juga mengatakan bahwa engkau tuli, mengapa?"

Wanita itu menjawab, "Ayahku benar, karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah.

"Ayahku juga mengatakan kepadamu bahwa aku bisu dan lumpuh, bukan?" Tanya wanita itu kepada Tsabit bin Ibrahim yang kini sah menjadi suaminya.

Tsabit bin Ibrahim mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan isterinya. Selanjutnya wanita itu berkata,

"aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya menggunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta'ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh kerana kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang boleh menimbulkan kegusaran Allah Ta'ala".

Tsabit bin Ibrahim amat bahagia mendapatkan isteri yang ternyata amat soleh dan wanita yang memelihara dirinya.

Dengan bangga ia berkata tentang isterinya, "Ketika kulihat wajahnya... Subhanallah, dia bagaikan bulan purnama di malam yang gelap".

Tsabit bin Ibrahim dan isterinya yang salihah dan cantik itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikaruniai seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah ke seluruh penjuru dunia, Beliau adalah Al Imam Abu Hanifah An Nu'man bin Tsabit.

🕌 SENTUHAN HATI 🕌

Senin, 21 Oktober 2019

Dalam Diam Ada Cinta

*السلام عليكم ورحمةالله وبركاته*

📚KISAH ALI BIN ABI THALIB MELAMAR FATIMAH PUTRI RASULULLAH SAW

Dalam Diam Ada Cinta

Kisah cinta yang sudah terpendam sejak lama, kisah cintanya sangat terjaga kerahasiaannya dalam kata, sikap dan ekspresi mereka bahkan konon syaithanpun tak bisa mengendusnya, mereka bisa menjaga izzah mereka, hingga Allah telah menghalalkannya.

Ali bin Abi Thalib adalah keponakan dan salah satu sahabat yang istimewa dimata Rasulullah SAW. Selain beliau tinggal langsung bersama Rasulullah, dia juga seorang pemberani yang pernah menggantikan posisi tidur Rasulullah disaat hijrah dan juga seorang mujahid perang yang gagah.

Sementara Fatimah, putri Rasulullah SAW yang taat, penyayang dan sangat peduli pada Rasulullah SAW, selalu ada disamping ayahnya dalam setiap kisah perjuangan sang ayah membumikan nilai-nilai islam di tengah kafir Quraisy.

Ali sudah menyukai Fatimah sejak lama, kecantikan putri Rasulullah ini tak hanya jasmaninya saja, kecantikan Ruhaninya melintasi batas hingga langit ketujuh. Kendalanya adalah perasaan rendah dirinya, apakah mampu ia membahagiakan putri Rasulullah dengan keadaannya yang serba terbatas. Demikian kira-kira perasaan yang ada pada Ali saat itu.

Pada suatu ketika, Fatimah dilamar oleh seorang laki-laki yang selalu dekat dengan nabi, yang telah mempertaruhkan kehidupannya, harta dan jiwanya untuk Islam, menemani perjuangan Rasulullah SAW sejak awal-awal risalah ini.

Dialah Abu Bakar Ash Shiddiq, entah kenapa mendengar berita ini Ali terkejut dan tersentak jiwanya, muncul rasa-rasa yang diapun tak mengerti, Ali merasa diuji karena terasa apalah dirinya jika dibanding dengan Abu Bakar kedudukannya disisi nabi.

Ali merasa belum ada apa-apanya bila dibanding dengan perjuangannya dalam menyebarkan risalah Islam, entah sudah berapa banyak tokoh-tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan dakwahnya. Sebutlah ‘Utsman, ‘Abdurrahman bin auf, Thalhah, Zubair, Sa’d bin abi Waqqash, Mush’ab. Ini yang tak mungkin dilakukan oleh anak-anak seperti Ali. Tak sedikit juga para budak yang dibebaskan oleh Abu Bakar sebutlah Bilal bin rabbah, khabbab, keluarga yassir, ‘Abdullah ibn mas’ud.

Dari sisi finansial Abu Bakar seorang saudagar, tentu akan lebih bisa membahagiakan Fatimah, sementara Ali?, hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

Melihat dan memperhitungkan hal ini, Ali ikhlas dan bahagia jika Fatimah bersama Abu Bakar, meskipun ia tak mampu membohongi rasa-rasa dalam hatinya yang ia sendiri tak mengerti, apakah mungkin itu yang namanya cinta?

Namun ternyata lamaran Abu Bakar ditolak oleh Fatimah sehingga hal ini menumbuhkan kembali harapannya. Ali kembali mempersiapkan diri, berharap dia masih memiliki kesempatan itu.

Namun ujian bagi Ali belum berakhir, setelah Abu Bakar mundur muncullah laki-laki nan gagah perkasa dan pemberani. Seseorang yang dengan masuk Islamnya mengangkat derajat kaum muslimin, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. Seorang yang diberi gelar Al-Faruq.
Ya, dialah Umar ibn Al Khaththab. Pemisah antara kebenaran dan kebatilan juga datang melamar Fatimah.

Ali pun ridha jika Fatimah menikah dengan Umar, ia bahagia jika Fatimah bisa bersama dengan sahabat kedua terbaik Rasulullah setelah Abu Bakar yang mana Rasulullah sampai mengatakan “Aku datang bersama Umar dan Abu Bakar”.

Namun kemudian Ali pun semakin bingung karena ternyata lamaran Umar pun ditolak.

Setelah itu menyusul Abdurahman bin Auf melamar sang putri dengan membawa 100 unta bermata biru dari mesir dan 10.000 Dinnar, kalo diuangkan dalam rupiah kira kira 55 milyar. Dan lamaran bermilyar-milyar itupun ditolak oleh Rasulullah.

Akan tetapi kekhawatiran Ali bin Abi Thalib belum berakhir sampai di sini karena ternyata sahabat yang lainpun melamar sang Az Zahra. Usman bin Affanpun memberanikan dirinya melamar sang putri, dengan mahar seperti yang dibawa oleh Abdurrahman bin Auf, hanya ia menegaskan kembali bahwa kedudukannya lebih mulia di banding Abdurrahman bin Auf karena ia telah lebih dahulu masuk islam.

Tidak disangkaa tidak diduga, ternyata Rasulullahpun menolak lamaran Usman bin Affan.

Empat sahabat sudah memberanikan diri dan mereka semua telah ditolak oleh Rasulullah SAW.

“Mengapa bukan engkau saja yang mencobanya kawan?”, seru sahabat Ali,
"Mengapa engkau tak mencoba melamar Fatimah?, aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
“Aku?”, tanyanya tak yakin.
“Ya. Engkau wahai saudaraku!”
“Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa aku andalkan?”
Sahabatnyapun menguatkan “Kami dibelakangmu, kawan!

Akhirnya Ali bin Abi Thalibpun memberanikan diri menjumpai Rasulullah untuk menyampaikan maksud hatinya, meminang putri nabi untuk jadi istrinya. Awalnya beliau hanya duduk di samping Rasulullah dan lama tertunduk diam. Hingga Rasulullahpun bertanya ” wahai putra Abu Thalib, apa yang engkau inginkan?”

Sejenak Ali terdiam, dan dengan suara bergetar iapun menjawab, ” Ya Rasulullah, aku hendak meminang Fatimah” Mendengar jawaban Ali ini beliau SAW tidak terkejut. "Bagus, wahai Ibnu Abu Thalib, beberapa waktu terakhir ini banyak yang melamar putriku, tetapi ia selalu menolaknya, oleh karena itu, tunggulah jawaban putriku”

Kemudian Rasulullah meninggalkan Ali dan bertanya kepada putrinya, ketika ditanya Fatimah hanya terdiam dan Rasulullah SAW menyimpulkan bahwa diamnya Fatimah pertanda kesetujuannya.

Rasulullah kemudian mendekati Ali dan bersabda "Apakah engkau memiliki sesuatu yang akan engkau jadikan mahar wahai Ali?

Alipun menjawab ” Orang tuaku yang menjadi penebusnya untukmu ya Rasulullah, tak ada yang aku sembunyikan darimu, aku hanya memiliki seekor unta untuk membantuku menyiram tanaman, sebuah pedang dan sebuah baju zirah dari besi”

Dengan tersenyum Rasulullah SAW bersabda "Wahai Ali, tidak mungkin engkau terpisah dengan pedangmu, karena dengannya engkau membela diri dari musuh-musuh Allah SWT dan tidak mungkin juga engkau berpisah dengan untamu karena ia engkau butuhkan untuk membantumu mengairi tanamanmu, aku terima mahar baju besimu, jual lah dan jadikan sebagai mahar untuk putriku” Wahai Ali engkau wajib bergembira sebab Allah sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkan engkau di Langit sebelum aku menikahkan engakau di Bumi" Diriwayatkan oleh Ummu Salamah ra.

Ali bin Abi Thalib menjual baju besi tsb dengan harga 400 dirham dan menyerahkan uang tersebut kepada Rasulullah SAW, dan nabipun membagi uang tersebut ke dalam 3 bagian. Satu bagian untuk kebutuhan rumah tangga, satu bagian untuk wewangian dan satu bagian lagi di kembalikan kepada Ali bin Abi Thalib sebagai biaya untuk jamuan makan untuk para tamu yang menghadiri pesta.

Setelah segala-galannya siap,dengan perasaan puas dan hati gembira dan di saksikan oleh para sahabat Rasulullah mengucapkan kata ijab kabul pernikahan putrinya

Kemudian Nabi SAW bersabda:"Sesunguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah Putri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib,Maka saksikanlah sesunguhnya aku telah menikahkanya dengan mas kawin empat ratus dihram(nilai sebuah baju besi) dan Ali Ridho(menerima)mahar tersebut.

Maka menikahlah Ali dengan Fatimah Pernikahan mereka penuh hikmah walau di arungi di tengah kemiskinan Bahkan di sebutkan oleh Rasulullah sangat terharu melihat tangan Fatimah yang kasar karena harus menepung gandum untuk membantu suaminya

Dan malam harinya setelah dihalalkan oleh Allah SWT, terjadilah dialog yang sangat menggetarkan. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah keduanya menikah, Fatimah berkata kepada Ali,

“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta kepada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya”,
Ali pun bertanya mengapa ia tak mau menikah dengannya, dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya.
Sambil tersenyum Fatimah menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu.”

Subhanallah, itu adalah pujian terbaik dari seorang istri yang bisa membahagiakan hati suaminya.

Ali dan Fatimah saling mencintai karna Allah mereka mencintai dalam diam,menjaga cintanya dan Allah satukan dalam ikatan suci pernikahan Maa Syaa Allah.

Semoga Allah SWT mempertemukan kita semua dengan orang yang sunguh-sunguh mencintai kita seperti Fatimah dan Ali.

Aamiin Yaa Robbal Alamiin.

Senin, 01 Juli 2019

RAYUAN SEORANG AHLI TAJWID KEPADA ISTRINYA

Dik, saat pertama kali berjumpa denganmu, aku bagaikan berjumpa dengan Saktah... hanya bisa terpana dengan menahan nafas sebentar... . .

Aku di matamu mungkin bagaikan Nun Mati di antara idgham Billaghunnah, terlihat, tapi dianggap tak ada... .

Aku ungkapkan maksud dan tujuan perasaanku seperti Idzhar, Jelas dan terang... .

Jika Mim Mati bertemu Ba disebut ikhfa Syafawi, maka jika aku bertemu dirimu, itu disebut cinta... .

Sejenak pandangan kita bertemu, lalu tiba-tiba semua itu seperti Idgham Mutamaatsilain.­..melebur jadi satu.

Cintaku padamu seperti Mad Lazim .. Paling panjang di antara yang lainnya... .

Setelah kau terima cintaku nanti,
hatiku rasanya seperti Qalqalah Kubro.. terpantul-pantul dengan keras... .

Dan akhirnya setelah lama kita bersama, Cinta kita seperti Iqlab,
ditandai dengan dua hati yang menyatu.. Sayangku padamu seperti Mad Thobi'i dalam quran... #Buanyaaakkk beneerrrrr....

Semoga dalam hubungan,
kita ini kayak idgham Bilaghunnah ya, Cuma berdua, Lam dan Ro' .. .

Layaknya Waqaf Mu'annaqah,
engkau hanya boleh berhenti di salah satunya, dia atau aku?

Meski perhatianku ga terlihat kaya Alif Lam Syamsiah, Cintaku padamu seperti Alif Lam Qomariah, terbaca jelas... .

Dik, kau dan aku seperti Idghom Mutajanisain... perjumpaan 2 huruf yang sama makhrajnya tapi berlainan sifatnya...

Aku harap cinta kita seperti Waqaf Lazim, terhenti sempurna di akhir hayat...

Sama halnya dgn Mad 'Aridh dimana tiap mad bertemu Lin Sukun Aridh akan berhenti, seperti itulah pandanganku ketika melihatmu... .

Layaknya huruf Tafkhim, namamu pun bercetak tebal di fikiranku

Seperti Hukum Imalah yg dikhususkan untuk Ro' saja, begitu juga aku yang hanya untukmu.

Semoga aku jadi yang terakhir untuk kamu seperti Mad Aridlisukun ... 😘😍

#belajartajwid
#cintailah

Sabtu, 16 Maret 2019

KISAH SELEMBAR IJAZAH


© Doni Riw
.
Berapa tahun dihabiskan anak modern tuk mendapat selembar ijazah S1?
.
Paud 2th, TK 2th, SD 6th, SMP 3th, SMA 3th, S1 4th, maka total 20th.

Jika paud usia 3th, maka ijazah s1 terpegang di usia 23th.

Jika hanya mangandalkan pendidikan di sekolah, life skill apa yang sudah dikuasai "anak" usia 23th?

Berapa gaji yang bakal dia terima jika bekerja mengandalkan ijazah s1? Setara UMR?

Jika hanya mengandalkan materi pendidikan sekolah, ilmu Islam apa yang sudah dikuasai?

Berapa juz yang ia hafal? Berapa ratus hadits dia kuasai?

Sudahkah bisa bahasa arab sehingga mampu memahami Al Quran tanpa terjemahan depag?

Atau justru di usia itu dia tengah galau karena jatuh cinta pada lawan jenis, tapi tak berani melamar? karena biaya mahar & walimah sangat tinggi?

Atau sibuk bermain game online sembari nongkrong ke sana ke mari tanpa prestasi?

Rasulullah SAW di usia 12 tahun sudah diajari berdagang oleh pamannya. Tanpa habis waktu mengejar ijazah SD/SMP.

Di usia belasan, beliau sudah ahli berdagang. Di usia 25 menikahi Khadijah RA. dengan mahar 20 ekor unta (setar 600 juta rupiah saat ini).
.
Imam Syafi'i sudah dipercaya menjadi imam Masjidil Haram sebelum beliau baligh. Tak menunggi ijazah SMA.

Al Fatih jadi Sultan sekaligus Panglima Perang menaklukkan konstantinopel di usia 21 tahun. Tak perlu ijazah S1.

Dahulu muslimin dan anak-anak mencapai ilmu dunia dan akhirat di usia belia.

Malang nian nasib anak modern dalam sistem pendidikan sekuler kapitalis. Termasuk juga penulis.

Bertahun bekerja keras dengan berbagai cabang ilmu. Mengejar ijazah yang hanya semu.

Usia terlanjur tua tapi dasar aqidah ia tak punya.

Umur habis tapi life skill hanya mampu jadi karyawan dengan upah tipis.

Malang nian nasib anak modern dalam sistem pendidikan sekuler kapitalis. Termasuk juga penulis.

Dididik untuk menjadi roda penggerak sistem ekonomi kapitalis.

Jadi pekerja yang dijerat hutang riba. Dihibur dengan hedonisme yang menguras isi kantongnya yang tak seberapa.

Sementara isi kepalanya dikosongkan dari aqidah dan ilmu agama.

.
Jogja 1119
.
#kisahijazah

Jumat, 22 Februari 2019

GONTOR DARI DALAM

Mata saya selalu basah membayangkan suasana ini,  tulisan ini bukan hayalan,  ini nyata dan disampaikan oleh saksi mata yg orangnya masih hidup. Membayangkan sosok sepuh yang sudah pengalaman dalam hal pengembangan pesantren dan totalitas beliau dalam dunia pendidikan,  bahakan masalah "sepele" sekalipun,  masalah HUJAN... ya hal ringan ini telah merubah kebiasaan santri Gontor sampai sekarang.. Allahuma Yarham...

Silahkan dibaca sendiri..

Hasanain Juaini

GONTOR DARI DALAM:

Pidato Pak Zar Menyambut Musim Hujan

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum Wa. Wb.

Ada saja hal kecil yang secara automatis mengungkit kembali kenangan lama semasa menjadi santri KH Imam Zarkasi. Pagi ini, ketika rintik-rintik kecil menatap wajah Jakarta, mendadak fikiran saya melayang ke tahun 1980, musim hujan pertama saya di Gontor. Pagi itu jum'at, hari tidak masuk kelas di Gontor. Tidak biasanya lonceng panjang berdentang panjang sekali. Pertanda semua penduduk Gontor harus kumpul di BPPM, tanpa kecuali. Semua faham itu perintah otoritas tertinggi yang arus dipatuhi.

Nampaknya pertemuan itu sama sekali tidak direncanakan, sehingga Bagian Pengasuhan santri dan Bagian keamanan OPPM serentak berseliweran baik dengan berlari atau menggunakan sepeda untuk menggesa santri-santri yang saat itu kebanyak tidur, tidur-tiduran, lesehan dan duduk bersender di dinding-dingding rayon atau tiang-tiang didepan koredor.

"Hayya hayya hayya bissur'ah ...ayo cepat cepat cepat. teriak mereka sahut menyahut.

Pak Zar sudah duduk lebih dahulu di atas kursi tinggi di depan podium sambil menunggu kedatangan para guru dan santri, sementara Bagian Penerangan OPPM sangat sibuk menyiapkan sound system.

Lokasi rayon saya paling dekat, Kibar Baru, hanya beberapa puluh langkah dari gedung pertemuan. Saya dengar gemuruh suara kaki berlarian menuju Aula besar itu, namun begitu kaki memasuki gerbang, mendadak ayunan dan hentakan kaki diperlemah seperti berjinjit menghindari suara gesekan dengan tegel yang licin. Di depan panggung nampak jelas Pak Zar sudah duduk menunggu. Mana ada yang berani bikin ribut?!

Sekitar 15 menit kemudian seribuan lebih santri sudah duduk khusyuk di dalam Aula, para guru dan bagian keamanan berdiri mengitari karena tidak kebagian tempat duduk [begitulah aturan tak tertulis di Gontor, yang besar menyayangi yang kecil]. Semua tertanya-tanya, apa gerangan kejadian penting yang akan disampaikan Pak Kiyai.

Seperti biasa Pak Zar akan mengetuk-ngetuk mike [tidak pakai suara seperti hallo...hallo tes...tes tes, atau chek...chek...chek. Sama sekali tidak pernah begitu]. Show then begun!

Pak Zar kerap mengingatkan: "Khairul bidaayati nisful amal " = permulaan yang baik adalah setengah dari keberhasilan. Dan beliau adalah orang yang paling rigid dalam menjalankan metode pengajaran. Kali ini beliau akan melaksanakannya.

Bismillah...Salam...tahmid dan shalawat kemudian dialog pembukaan:

Pak Zar: Apa yang kamu lakukan kalau lapaaaar?
Santri : Makaaaaaaaaaaan....!

Pak Zar: Kalau hauuuuus?
Santri : Minuuuuuuuum...!

Pak Zar: Kalau ada orang yang belum lapar dan haus tapi makan dan minuum, apa namanya?
Santri: Rakuuus.

Pak Zar sudah merasa cukup melakukan warming-up, yang dalam metode pengajaran dinamakan 'Al-muqaddimah bil as'ilatil al-muta'alliqati bil makluumatissabiqoh' = dialog pembuka tentang apa-apa yang SANGAT MUNGKIN DIKUASAI oleh audien. Beliau kemudian masuk kedalam inti tujuan perkumpulan itu.

Apapun masalahnya, Pak Zar selalu punya cerita yang sesuai dengan topik yang akan disampaikan. Entah sudah disiapkan sebelumnya atau spontanitas karena kapasitas orang-orang hebat memang demikian. Saya juga pernah mendengar beberapa pidato Bung Karno, M. Natsir, Hamka bahkan pemimpin populer Venezuela, Hugo Chaves selalu mengawali pidatonya dengan cara seperti itu. Kali ini beliau bercerita tentang Kunjungan Pak Natsir ke Jepang. Konon pak Natsir masih tidur kedinginan di dalam hotelnya di Tokyo sampai pagi. Tak lama kemudian terdengar pintu diketuk, ternyata beberapa orang dokter dan perawat sudah menunggu di luar dan meminta izin untuk merawat beliau. Kontan Pak Natsir kaget dan menyatakan bahwa beliau baik-baik saja. Namun para dokter dan perawat bertanya keheranan: Kalau Tuan sehat sehat saja mengapa sampai siang begini Bapak masih tidur saja?

Para guru dan santri yang dari tadi mendongak ke arah panggung dan kursi tinggi itu lalu mendapat berondongan pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban:

Pak Zar: Tadi saya keliling Pondok ... di mana-mana di majid, di kelas, di rayon ... di manapun saya lihat anak-anak tidur, duduk duduk, malas malasan... Padahal kalian semua belum bekerja apa-apa; Belum lapar kok makan, belum capek kok istirahat ... itu apa namanya...? Beliau berteriak lantang sekali.

Mendadak kepala kita semua memuat assosiasi kepada dokter dan perawat Jepang itu dan serentak menjawab: " Sakiiiiiiit...."

Pak Zar mengetuk mike...semua terdiam.

Beliau meneruskan: "Hujan? Ya Hujan!. Bukankah hujan itu rahmat? Mengapa kalian menyambut rahmat Allah dengan tidur dan malas-malasan? Siapa yang mengajarkan kalian begitu? Tak ada jawaban.

Pak Zar meneruskan:

"Menurut ilmu jiwa, orang yang sakit karena hujan itu adalah mereka YANG KEHUJANAN, sedangkan MEREKA YANG BERMAIN HUJAN tidak akan sakit, bahkan menjadi lebih segar dan lebih sehat. Kalian semua adalah pemuda-pemuda yang tangguh, bukan garam yang akan meleleh kalau diguyur hujan."

Pak Zar: Mengerti?.

Jawaban gemuruh, memekakkan telinga: " Ngertiiiiiii!!!"

Wassalamu'alaikum ... pertemuan ditutup dengan hamdalah...

Sejak saat itu, semua isi pondok seperti kena setrum, melompat dari posisinya dan berkeliaran menyongsong hujan. Tidak ingin menjadi "Pemuda Garam" yang takut dan menghindari hujan. Begitulah guru dan pendidik telah meletakkan pungsi hujan pada proporsinya. Hujan adalah rahmat. Tidak sepantasnya menjadi penghambat.

Jika Walsantor sempat ke Gontor di musim hujan... maka buktikan cerita saya ini. Tak akan ada anak-anak meringkuk lesu dan tidur jika hujan deras mengguyur. Mereka justru berlarian ke tengah hujan ada-ada saja yang dilakukan. Maka saya berani menebak kalau "Keseblasan Santri Gontor" diadu diatas lapangan becek, mereka pasti tidak akan terkalahkan. Hujan dan becek adalah rahmat bukan perkara undangan menuju 'pulau kapuk***'

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Penggilingan, 14 Desember 2013
***Pulau kapuk = kasur tempat tidur

Kamis, 21 Februari 2019

Bacalah.....Iqra'...

Dari K.H Hasanain Juaini ( Pengasuh P.M Nurul Haromain NTB )
BAYAR CERITA SAYA INI DENGAN KOMENTAR (YA?)

FAQROH ULA

Ibu - bapak pasti tahu nama Kyai Haji Imam Zarkasyi, tapi bisakah anda membayangkan sosoknya? Atau melihat langsung aksinya?

Di kamar tidur beliau selalu tergelar sajadah yang diatasnya ada untaian tasbih. Saya tahu tahu karena sering menyapu ruangan itu. Allahumma saya bersyukur dapat mengabdikan hidupku untuk beliau. Di belakang sajadah itu dekat jendela ada kertas HITAM bertuliskan tinda emas berbunyi: "Sehari harus bekerja 18 jam. Istirahat adalah mengganti jenis pekerjaan".

Diluar jam mengajar beliau keluar rumah, memakai kaos oblong warna putih cap kodok dan mengalungkan handuk kecil untuk menyeka keringat. Biasanya membawa alat2 pertukangan seperti martil, obeng atau tang. keliling melihat-lihat papan tulis yang tergantung tidak rapi maka diluruskan, memeriksa meja bangku yang ringkih maka dipasaknya, pintu2 kelas yang engselnya rusak dicatat dan diperintahkan untuk diperbaiki.

Jika ada kelas yang kosong, maka beliau masuk mengajar. jika ada sebelahnya lagi yang kosong maka ditingggalkan songkoknya dikelas yang dimasuki terdahulu dan beliau memasuki kels kosong yang ribut itu. Sering terjadi beliau langsung pulang setelah mengisi kelas dengan amat sangat serius, maka songkok hitamnya ketinggalan di kelas sehinga tak satupun santri yang berani meninggalkan kelas sebelum beliau datang kembali mengambil songkoknya (sekalipun sudah jam pulang). ketua kelas harus mendatangi beliau dan bertanya apakah beliau akan masuk kembali agar kami menunggunya?

Kalau berpapasan dengan santri yang tidak membawa buku maka beliau akan mencegat dan menanyakan: mengapa tidak membawa buku? Kalau bertemu dengan anak yang membawa buku tapi tidak membacanya beliau juga bertanya: Mengapa buku dibawa kok tidak dibaca? ( maaf saya selalu menangis kalau mengingat-ingat hal ini).

Satu hari saya berpapasan dengan beliau dan didepan saya ada sobekan koran. Beliau perintahkan " PUNGUT !". sayapun memungutnya dan hendak membuangnya ke tong sampah, namun beliau memerintahkan saya untuk membacanya dahulu. Karena korannya sudah lama dan usang sayapun menjawab: Maaf Pak Yai ini koran lama. Dengan pandangan mata yang teramat tajam beliau menatap saya, rasa merindingnya masih sampai sekarang. Beliau bilang dengan lirih: Ya bunayya korannya memang lama, tapi apa kamu sudah membacanya atau belum?

Kejadian itu didepan Perdos (Perumahan Dosen, berada dibelakang rumah lama Keluarga Kyai Imam Zarkasyi). Peristiwanya tidak berhenti sampai disitu. saya diminta duduk dan membaca potongan koran lusuh itu. Ketika selesai sayapun bangkit minta diri, tapi beliau meminta potongan koran itu dan mulai menanyai saya hampir lima puluhan pertanyaan yang bersumber dari satu alinea saja bahan bacaan itu, tentu saja saya KO berat. Diakhir peristiwa itu beliau berkata: Anak Lombok ya? Makanya kalau membaca jangan setengah setengah. belum lima menit saja sudah lupa. Baca yang bagus...."mocone sing telaten"

Keesokan harinya dalam wejangan untuk kelas Lima (saya kelas lima waktu itu, tahun 1981) beliau menceritakan kasus itu dan menegaskan:

" Di dalam rumah saya ada aturan, bahwa anak-anak saya yang tidak sedang membaca akan disuruh bekerja terur...terus...terus....sampai dia meminta waktu istirahat dan istirahatnya adalah untuk membaca. Hanya anak yang sakit saja yang boleh tidak membaca dan tidak bekerja"

KETIKA MENONTON FILM NEGERI 5 MENARA, SAYA MENYESAL TIDAK DIIKUTKAN MEMBERI MASSUKAN SEHINGGA SEHARUSNYA KEJADIAN SEPERTI ITU DIMASUKKAN UNTUK MENGGETARKAN DUNIA. " Iqro ya Bunayya "

SEKILAS TERDENGAR BIASA TAPI BISA BERBAHAYA.


1. Seorang teman bertanya : 'Berapa gajimu sebulan kerja di toko itu ?".
Ia menjawab : "1,5 juta rupiah".
"Cuma 1,5 juta rupiah? sedikit sekali ia menghargai keringatmu. Apa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupmu ?".

Sejak saat itu temanmu jadi membenci pekerjaannya. lalu dia meminta kenaikan gaji pada pemilik toko, pemilik toko menolak dan mem PHK nya. Kini temanmu malah tidak berpenghasilan dan jadi pengangguran.

2. Saat arisan seorang ibu bertanya : "Rumahmu ini apa tidak terlalu sempit ? bukankah anak2 mu banyak ?".

Rumah yang tadinya terasa lapang sejak saat itu mulai dirasa sempit oleh penghuninya. Ketenangan pun hilang saat keluarga ini mulai terbelit hutang kala mencoba membeli rumah besar dengan cara kredit ke bank.

3. Saudara laki2nya bertanya saat kunjungan seminggu setelah adik perempuannya melahirkan : "Hadiah apa yang diberikan suamimu setelah engkau melahirkan ?"
"tidak ada" jawab adiknya pendek.
Saudara laki2 nya berkata lagi : "Masa sih, apa engkau tidak berharga disisinya ? aku bahkan sering memberi hadiah istriku walau tanpa alasan yang istimewa".
Siang itu, ketika suaminya lelah pulang dari kantor menemukan istrinya merajuk dirumah, keduanya lalu terlibat pertengkaran. Sebulan kemudian, antara suami istri ini terjadi perceraian.

Dari mana sumber masalahnya ?
Dari kalimat sederhana yang diucapkan saudara laki2 kepada adik perempuannya.

4. Seseorang bertanya pada kakek tua itu : "Berapa kali anakmu mengunjungimu dalam sebulan ?" Si kakek menjawab : "Sebulan sekali".
Yang bertanya menimpali : "Wah keterlaluan sekali anak2mu itu. Diusia senjamu ini seharusnya mereka mengunjungimu lebih sering".

Hati si kakek menjadi sempit padahal tadinya ia amat rela terhadap anak2 nya. Ia jadi sering menangis dan ini memperburuk kesehatan dan kondisi badannya.

APA SEBENARNYA KEUNTUNGAN YANG DIDAPAT KETIKA BERTANYA SEPERTI PERTANYAAN2 DIATAS ITU ???

Jagalah diri dan jangan mencampuri kehidupan orang lain.
Jangan Mengecilkan dunia mereka. Menanamkan rasa tak rela pada yang mereka miliki. Mengkritisi penghasilan dan keluarga mereka dan lain2
Kita akan menjadi agen kerusakan di muka bumi dengan cara ini. Bila ada bom yang meledak cobalah introspeksi diri, bisa jadi kitalah sebenarnya yang menyalakan sumbunya..

Semoga bermanfaat....

#copas#