Selasa, 24 April 2018

Nilai Luhur sebuah Keikhlasan...



Alkisah. Suatu hari seorang anak sedang berada di pasar. Entah kenapa, sejak tadi anak kecil itu mondar mandir di depan sebuah toko ramuan obat dengan gerak-gerik yang mencurigakan. Ketika keadaan sudah mulai sepi, si anak kecil tadi menyelinap masuk dan mencuri beberapa ramuan obat.
Sayangnya, anak kecil itu ketahuan sang pemilik toko dan diteriaki maling. Akhirnya anak tersebut tertangkap dan hendak dihakimi warga yang ada di sekitar toko obat tersebut. Untunglah, saat itu seorang penjual mie ayam yang melihat kejadian itu lalu segera berusaha melindungi anak kecil tadi. "Sabar-sabar saudara-saudara, jangan langsung menghakimi seseorang, ini negara hukum", ucap si penjual mie ayam tersebut. "Saya yakin, tidak semua orang mau jadi pencuri kecuali memang keadaan yang memaksanya mencuri, apalagi ini masih anak kecil. Jangan main hakim sendiri," lanjut si penjual mie ayam.
Referensi pihak ketiga
Akhirnya, setelah si penjual mie ayam berhasil meredakan emosi warga, ia lalu bertanya kepada anak kecil tadi kenapa mencuri ramuan obat tersebut. Si anak kecil pun menjawab, "Ayah saya sakit keras dan butuh obat, sedang kami keluarga yang sangat miskin, untuk makan saja udah 4 hari ini saya dan ayah saya tidak makan. Ibu saya sudah meninggal 3 tahun yang lalu. Saya kuatir kalau ayah saya tidak segera ditolong, ayah saya bisa meninggal", ujar anak kecil tadi sambil terisak menahan tangis dan gemetaran.
Si penjual mie ayam pun berkata, "Ya sudah, ramuan obat ini biar saya yang bayarin," sembari langsung memberikan sejumlah uang kepada toko ramuan obat tadi. Si penjual mie ayam juga memberi 2 bungkus mie ayam kepada si anak kecil tadi untuk di bawa pulang, buat makan bersama ayahnya.
Waktu pun berlalu, dan si penjual mie ayam itu pun kini sudah berumur lanjut, hidup sebatangkara bersama istrinya karena tidak dikarunia anak. Suatu hari, si penjual mie ayam ini pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Hasil diagnosa dari pihak rumah sakit adalah menyatakan bahwa dia harus pasang ring jantung dan perkiraan biaya adalah minimal 50 juta. Pihak rumah sakit mengatakan, "Jika memang setuju untuk dioperasi, maka akan dipanggilkan dokter spesialis penyakit jantung"
Hal ini tentu membuat istri si penjual mie ayam bingung bukan kepalang. Satu sisi dia ingin suaminya pulih seperti sedia kala, tapi di sisi lain dia tidak punya uang untuk biaya operasi. Akhirnya, keputusan pun diambil sang istri yaitu setuju untuk dioperasi. Untuk biayanya, dia akan berusaha mencari pinjaman. Dokter spesialis jantung pun didatangkan oleh pihak rumah sakit.
Sang istri pun mendatangi satu per satu tetangganya, teman, dan siapapun yang bisa dimintai tolong, namun tidak ada satu pun yang bersedia membantu. Dengan kondisi yang sudah lelah, sang istri pun kembali ke rumah sakit. Sang istri makin kaget karena suaminya dipindahkan ke kamar VIP yang biaya sewanya bisa berlipat-lipat. Sang istri pun masuk kamar di mana sang suami dirawat.
Hingga 3 hari kemudian, sang suami pun sadar dan pihak rumah sakit memperbolehkannya pulang. Sang istri pun dengan nada cemas berkata kepada pihak rumah sakit, "Tapi saya nggak punya uang, saya sudah berusaha kesana kemari untuk pinjam uang, namun belum dapat juga. Kalau boleh, tolong kasih tenggang waktu pembayaran agar bisa saya cicil."
Pihak rumah sakit tersenyum dan berkata, "Semua sudah dibayar lunas bu oleh pemilik rumah sakit ini dan pemilik rumah sakit ini juga yang mengoperasi suami ibu karena beliau adalah dokter ahli jantung. Beliau menitipkan secarik surat ini untuk bapak dan ibu", ujar pihak rumah sakit sambil memberikan secarik surat tersebut.
Sepasang suami istri itu pun lalu membuka surat tersebut dan membacanya, "Saya adalah anak yang dulu mencuri obat ramuan dan bapak dulu menolong saya bahkan memberi saya 2 bungkus mie ayam agar kami bisa makan. Sejak kejadian itu, saya bertekad untuk menjadi dokter dan menjadi orang sukses agar bisa bermanfaat untuk orang banyak, terutama yang butuh bantuan medis tetapi tidak memiliki uang. Saya sangat memahami bagaimana ayah saya dulu sakit keras, namun biaya sama sekali tidak bisa kami jangkau kala itu. Biaya operasi jantung serta kamar VIP serta seluruh obat-obatan sudah saya tanggung semua, namun saya meminta balasan atas itu semua kepada bapak dan ibu yaitu bersediakah bapak dan ibu menjadi orang tua angkat saya? Ayah saya sudah meninggal dan saya hanya hidup bersama anak dan istri saya. Mohon kabulkan permohonan saya ini. Salam."
Sahabat. Jangan pernah berhenti untuk berbuat baik karena kita tidak akan pernah tahu bagaimana balasan yang Allah berikan atas kebaikan yang kita tebarkan. Biarlah itu menjadi urusan Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar