Alkisah. Ibu Risa mengenal wanita itu sebagai seorang asisten rumah tangga di lingkungan komplek rumah. Mereka pun sering berpapasan, entah itu di sekolah anak, di jalan, atau di tukang sayur. Seperti halnya ketemu orang yang dikenal, mereka pun saling sapa dan tanya ini itu tentang kegiatan sehari-hari.
Suatu hari, saat bersiap-siap akan pergi, wanita itu tiba-tiba datang ke rumah ibu Risa dengan bercucuran air mata. Dia terpaksa menahan malu untuk meminta tolong. Tapi demi adiknya yang akan mengikuti ujian dan perlu biaya besar dia pun berniat menggadaikan motornya kepada ibu Risa.
Ibu Risa ikut sedih mendengar ceritanya. Apalagi dia bilang, ibunya sedang sakit-sakitan. Sambil bekerja sebagai ART, dia merawat ibunya yang berjalan pun susah karena mengalami pengapuran kaki. Ibu Risa berusaha berempati dengan mendengarkan cerita wanita itu.
Ibu Risa juga sebenarnya bingung harus membantu dengan apa karena dia memang tidak bekerja dan tidak memegang banyak uang. Ia hanya diamanahi uang belanja keperluan sehari-hari oleh suaminya. Akhirnya, dia mengatakan akan berbicara pada sang suami dan meminta kepada wanita itu untuk bersabar menunggu.
Hari demi hari berlalu. Suatu ketika, ibu Risa mengikuti pengajian di mesjid dekat rumahnya. Dia tertegun dengan perkataan sang ustadzah yang berceramah dan berkata, “Setiap orang yang minta tolong padamu, pasti tetap akan Allah SWT tolong. Baik oleh kamu maupun orang lain. Ini adalah tentang berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan.”
Mendengar demikian, ibu Risa langsung teringat dengan wanita yang beberapa hari lalu datang ke rumahnya. Ibu Risa menyadari bahwa tak bisa dipungkiri ada tangan Tuhan yang menjadikan dia datang padanya untuk minta tolong.
Akhirnya, dengan niat menolong, ibu Risa pun pergi ke bank untuk mengambil tabungan anaknya untuk dipinjamkan kepada wanita itu. Memang tidak cukup seperti yang wanita itu butuhkan, tapi setidaknya bisa membantunya mencicil uang ujian adiknya.
Wanita itu pun berterima kasih dengan mata berkaca. Ibu Risa tahu, kondisi dia tak jauh lebih baik dari wanita itu. Ibu Risa juga tahu, manusia adalah tempatnya kecewa. Ibu Risa berharap, Allah SWT memberi wanita itu kemudahan dalam membayar hutangnya kelak dan Allah SWT juga memberinya keikhlasan dan kelapangan rejeki.
Ibu Risa tak ingin pusing memikirkan balasan kebaikan. Dia cukup percaya Allah SWT akan menolong hambaNya yang memohon pertolongan. Setelah ibu Risa memberi pinjaman kepada wanita itu, satu demi satu pertolongan Allah pun datang menghampiri ibu Risa. Tanpa diduga, tiba-tiba saja orang tuanya mengirim paket makanan dan angpao. Begitu pula rekeningnya bertambah jumlahnya dari kegiatan ngeblog yang dilakukan. Semuanya pas untuk memenuhi kebutuhannya.
Sahabat. Disadari atau tidak, ketika kita membantu dan memberi pertolongan kepada orang lain, sebenarnya kita juga sedang menolong diri sendiri. Ada saatnya kita akan menyadari kalau sesungguhnya pertolongan Allah SWT itu begitu dekat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar